SYARAH HADITS ARBA'IN

Hadist Arba'in merupakan kumpulan dari 42 hadist yang dirangkum oleh Imam Nawawi. Pada awalnya kumpulan hadist ini terdiri dari 26 hadist yang disampaikan oleh Ibnu Shalah dalam majelisnya. Isinya adalah hadist - hadist nabi yang ucapannya sangat ringkas, tapi maknanya luas. Selanjutnya, Imam nawawi atau yang bernama lengkap Yahya bin Syaraf bin Murry in Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum'ah bin Hizam an Nawawi, merangkumnya dan menamainya Al-Arba'in.

Ada tiga alasan mengapa hadist Arba'in ini begitu istimewa, hingga sampai saat ini tetap dipelajari dan dihafal oleh banyak muslimin.
* Pertama : Setiap hadist yang ada di dalamnya merupakan fondasi agung dalam agama islam yang dinyaakan oleh para ulama sebagai poros Islam, setengah agama, atau sepertiganya.
* Kedua : Semuanya adalah hadist shahih yang sebagian besar terdapat dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.
* Ketiga : Setiap hadist dibuatkan bab tersendiri sehingga lebih memperjelas makna hadist yang masih samar.
Kali ini, saya InsyAlloh akan dengan terpisah - pisah menulis ulang ke 42 hadist arba'in tersebut beserta penjelasan singkat dan padat agar mudah dipahami oleh pembaca sekalian.

1. Niat, Kunci Amal


عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .
[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]

Artinya :

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.




(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) .


Penjelasan
:
Hadist ini muncul karena suatu sebab. Pada waktu itu para sahabat melaporkan adanya seseorang yang berhijrah dari Mekah ke Madinah untuk menikahi seorang wanita bernama Ummu Qais. Secara zahir apa yang dilakukan sama dengan aoa yang dikerjakan para sahabat. Akan tetapi, niat dan tujuannya ternyata berbeda, yaitu untuk menikahi Ummu Qais. Oleh karena itu, orang itu dijuluki "Muhajir Ummu Qais" ( orang yang berhijarah demi ummu Qais).
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepada - Ku", demikain terjemah surat Adz-Dzariyat [51] : 56. Allah menegaskan bahwa tujuan hidup kita di dunia ialah beribadah atau mengabdi kepada Nya. Benar, itu saja tugas kita. Lalu, tahukah Anda apa separuh dari ibadah itu? ya, separuh dari ibadah itu adalah apa yang diterangkan dalam hadist tersebut karena ia menjadi timbangan amalan batin. Sementara yang separuhnya lagi, yang menjadi timbangan amalan lahir adalah hal berikut. " Barang siapa mengada - ada sesuatu perkara dalam ususan agama kami,yang bukan merupakan bagian darinya, maka ia tertolak". (HR. Bukhari dan Muslim)
Kedua hal tersebut, yaitu niat yang ikhlas dan mengikuti tuntunan Rasulullah merupakan kunci diterimanya ibadah seseorang. Bertolak dari sini, meluruskan niat adalah sebuah keniscayaan bagi kita. ada baiknya, sebelum beramal kita selalu bertanya pada hati kecil ita, "Apa niat saya melakukan ini dan untuk siapa perbuatan ini saya lakukan dan mengapa?". Mengetahui cacatnya niat sejak awal itu lebih baik dari pada mengetahuinya belakangan.
Lalu, apa yang dimaksud dengan niat di sini?? Menurut Syekh as-Sa'adi, niat adalah menyengaja untuk melakukan suatu amalan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah serta mencari ridha dan pahala dariNya. Jadi, sabda Nabi saw, "sesungguhnya setiap perbuatan bergantung pada niatnya.."
Maksudnya ialah amalan-amalan yang berkenaan dengan ketaatanm bukannya amalan-amalan yang bersifat mubah, apalagi makruh atau haram.
fungsi niat ialah untuk membedakan antara kebiasaan dan ibadah. Misalnya, anda duduk di dalam masjid. Ini bisa diniatkan untuk sekedar beristirahat, sebagai bentuk kebiasaan, namun bisa juga untuk beribadah, yaitu dengan niat beriktikaf. Jadi yang membedakan antara ibadah dan kebiasaan antara satu bentuk ibadah dan bentuk ibadah yang lain. Contohnya ialah orang yang mengerjakan shalat empat rakaat. Shalat empat rakaat ini bisa merupakan shalat zuhur ataupun shalat sunnah rawatib. Maka, yang membedakan antara keduanya ialah niat.
Adapun makna sabda Nabi saw, ".. dan setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan... " maksudnya ialah setiap perbuatan disesuaikan dengan niat pelakunya. Baik mengenai sah atau rasaknya maupun kesempurnaan atau kekurangannya. Sebaliknya, orang yang beribadah dengan sepenuh hati, maka ia pun akan memperoleh pahala yang sempurna.
Maksud "Barang siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan RasulNya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan RasulNya..", ialah seseorang akan mendapatkan balasan berdasarkan apa yang ia niatkan, sementara pahalanya menjadi tanggungan Allah. Contoh konkret pada saat ini banyak sekali. Ambil saja contoh pelajar yang mencari ilmu. Jika niatnya belajar ialah mencari keridhaan Allah, selain akan mendapatkan ilmu dan ijazah, ia juga akan mendapatkan pahala. Demikian pula orang yang bekerja, dan lain sebagainya. Yang terpenting adalah kita harus selalu menghadirkan niat yang ikhlas dalam setiap aktivitas kita. Pun menjauhi hal - hal yang daoat merusakan keikhlasan kita, seperti pamer, menginginkan pukoan dari orang lain, dan mengharapkan sanjungan darinya..
Niat yang baik akan membuahkan hasil yang baik. Dalam kita Shahih al-Bukhari disebutkan " Barang siapa meminjam harta orang lain dengan niat akan melunasinya, maka Allah akan membantu melunaskannya, Sebaliknya barang siapa meminjam harta orang lain dengan niat ingin menghanguskannya, maka Allah akan mengazabnya di akhirat "
Niat ini bisa juga diibaratkan seperti Law of attraction, hukumtarik menarik. Jika niatnya baik maka akan berbalas kebaikan dan jika niatnya buruk akan berbalas keburukan..



PELAJARAN PENTING



1. Niat Ikhlas merupakan syarat diterima atau tidaknya suatu amal perbuatan.
2. Manusia akan diberi pahala atau terhalang dari mendapat pahala atau bahkan
mendapatkan dosa sangat berkolerasi dengan niat yang dimilikinya.
3. Sesuatu yang mubah bisa menjadi bagian dari ketaatan jika diniatkan sebagai
bentuk kebaikan.




Dambil dari Syarah Hadist Arbain An Nawawi dengan beberapa perubahan redaksional. 

UNTUK SYARAH HADITS AL ARBAIN LAINNYA, DAPAT DILIHAT DENGAN KLIK MENU HADITS DI TAB MENU ATAU KLIK DI SINI.


tag : Hadist, Hadist Arbain, Download gratis, An Nawawi, Imam An nawawi, Bukhari Muslim, Shahih, Niat Ikhlas, Penjelasan hadist
SYARAH HADITS ARBA'IN SYARAH HADITS ARBA'IN Reviewed by skyoko7@gmail.com on Saturday, August 28, 2010 Rating: 5

No comments:

Comment Here

Powered by Blogger.